Awalnya aku agak males baca buku karangan dua orang ini karena jujur aku agak underestimate pengarang2 Indonesia gara2 selalu mengecewakanku dibagian ending dan terkadang cara ceritanya juga lebay. Tapi kemudian karena entah dorongan apa dan darimana kemarin akupun menyelesaikan buku itu.
Dinovel ini ada 3 tokoh yang menjadi center alur ceritanya, mereka itu adalah Lula, Langit, dan Sebastian. Aku Cuma bakalan kasih potongan ceritanya sesuai yang ada disampul belakang buku ini yang bacanya kayak komik jepang gitu dan kesanku terhadap tokoh dicerita ini satu persatu.
Lula: I heve a good job. I’m pretty, and, believe me, I am not airhead Paris-Hilton_like-girl. I am all what men need. Tapi kenapa nggak ada cincin dijari manisku
Dariku: dari secuplik kata2 diatas, jangan salah tafsir kalau Lula pengen ngebet nikah. Dia Cuma heran kenapa dia bias kalah saing ma orang yang menurut dia jauh dibawah dia. Dan parahnya cewek itu bias bersanding dengan orang yang slama ini dia inginkan. Dari Lula aku belajar kalau memang kesempurnaan itu nggak akan pernah bias diraih karena pasti ada celah yang bikin hal itu cacat, walau sekecil apa pu celahnya. Karakter Lula juga menguatkan pemikiranku kalau melingkarnya cincin di jari manis artinya sudah siap berkomitmen untuk saling menghargai dan percaya. Sayangnya, Lula belum punya itu.
Langit: we were perfect couple, ‘till, I found out about his affair. Then he left me. He chose his latest partner, not me. This is my big question mark, WHY?
Dariku: kalau karakter agak complicated kayak aku. Terkadang dia mendeny kalau sebenarnya dia ingin dialah orang yang dipilih oleh si him tapi disisi lain dia tak bias membiarkan orang hidup dalam kebohongan dan kepalsuan juga keterpaksaan. Parahnya, kisah langit hamper sama dengan kisahku dengan seseorang yang pernah jadi seseorang yang istimewa buatku. Apalagi mereka punya nama yang sama. Kamipun mengambil keputusan yang sama yaitu melepaskan mereka untuk mencari kehidupan mereka sendiri walau awalnya aku sama dengan langit tidak terima dengan kepuitusannya.
Sebastian: mangoli (nikah)… Cuma itu yang ada dipikiran mama akhir2 ini. Katanya menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus2an maksa aku nyari calon perumaen (menantu) dan menikah secepatnya?
Dariku: Sebastian merupakan karakter yang keras yang ingin hidup sesuai dengan keinginanannya. Dia tidak percaya dengan semua konsep pernikahan yang dipercaya banyak orang sebagai gerbang kebahagiaan sejati. Dari karakter dan “kehidupan” Sebastian aku belajar bahwa memutuskan sesuatu itu harus2 bener2 mateng dan mempertimbangkan segala sesuatu. Yang aku tidak suka dari karaketer Sebastian adalah dia memilih kehilangan mamanya disbanding kehilangan sesorang yang baru saja dia kenal dan dia cintai padahal belum ada jaminan kalau orang tersebut juga punya keinginan dan perasaan yang tulus seperti mamanya apalagi mengingat pergaulan dan pilihan hidup orang tersebuit. Dan yah akhirnya Sebastian harus menanggung resiko yang besar seumur hidupnya (at least sampai halaman terakhir buku ini).
OVER ALL: aku belajar kalau dimurku yang sekarang aku masih harus belajar dan menggali banyak hal agar hidupku tidak salah jalan seperti Sebastian, BECAUSE LIFE IS NEVER BEING PERFECT, WE JUST CAN DO OUR BEST, RIGHT????
October 26, 2009
Categories: book, opinion, review . . Author: iaraanderson . Comments: Leave a Comment