ES KRIM PENGGANTI

Setelah kabut tak lagi menjadi hiasan cappuccinoku dua hari ini, aku pun mulai beralih ke es krim sebagai menu pesananku ditempat2 favoritku kalau memang ada sih. Mungkin aku mencoba untuk lari darinya tapi aku hanya ingin membuat dia semurni kenangan kabut yang pernah dia buat untukku. Aku hanya ingin mengenangnya semurni mungkin tanpa memaksakan diri untuk terus menunggunya atau melupakannya. Untuk itu aku pun mulai melepaskan cappuccino sebagai minuman favoritku dan beralih menjadi es krim sebagai pelepas dahagaku disiang maupun malam hari. Namun, es krim tetaplah es krim tak bisa membuatku mendapatkan sensasi tegukan penuh kenangan benar2 berbeda dengan apa yang kudapat saat meneguk cappuccino apalagi yang berkabut buatannya. Tapi apa boleh buat aku harus membuat dia semurni mungkin karena aku percaya dia pasti kembali suatu saat nanti.

KEBISUAN BANDARA

Kemarin aku menganar seorang teman kebandara kota Solo tercinta. Saat itu melihat pemandanagan yang agak janggal dan aneh namun ku hanya bisa menyimpannya sendiri. Saat itu kulihat seorang istri yang begitu setianya mengantarkan suami bertugas sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan yang bertugas hari itu. Aku melihat sang isitri begitu menghormati sang suami hingga rela menundukkan kepalanya untuk sang suami saat mencium tangan sang suami. Sayang seribu sayang semuanya ternyata penuh kepalsuan dan kedustaan sang suami. Aku melihat sang suami malah memfokuskan pandangan pada wanita muda dengan postur tubuh yang menggoda iman tiap lelaki. Namun waktu itu aku masih tak begitu yakin apa iya ada sesuatu terjadi antara sang pilot dan wanita muda karena aku pun memutuskan untuk tetap fokus pada pemandangan itu. Dan ternyata memang benar saat sang istri pergi sepasang sejoli itupun berani menunjukkan kemesraan mereka seolah tanpa dosa telah mendustai sang istri yang begitu hornat pada si pilot. Sungguh tega nian mereka. namun apa daya, aku sama seperti bandara yang Cuma jadi saksi bisu peristiwa itu namun bedanya aku masih menikmati rahasia itu dengan tegukan cappuccino terakhir yang tanpa kabut tentunya.

 

MALAM BERKABUT TERAKHIR

Dua hari yang lalu aku terlalu malas untuk mengamati disekelilingku bahkan terlalu mals untuk membalas senyuman yang memang terkenal ramah dan memang itulah tugasnya disitu. Tak berapa lama aku pun mendapatkan pesananku yaitu segelas cappuccino dengan hiasan kabut yang indah seperti biasanya. Aku pun lalu larut dalam lamunan panjang bersama tiap tegukan cappuccino yang kupesan. Lamunan panjang yang menggiringku kedimensi waktu yang berbeda tepatnya saat aku masih bersama dia yang kucinta.

Tak terasa malam ternyata telah larut, maka kuputuskan untuk beranjak pergi dari tempat itu karna takut tak dapat kembali keperaduanku. Entah sejak kapan dia si pemberi senyum tadi sudah berjalan disampingku. Dengan tetap pada lamunanku, aku pun secara tak sadar kembali mengacuhkannya hingga sebuah genggaman tangan kurasakan begitu hangat walau terus-menerus diterpa dinginnya malam tanpa pelindung apapun yang akhirnya menghentikan langkahku dan menatap sang penggegam tadi.

Aku pun menatapnya dan mendengarkan dia bicara yang begitu meluap-luapnya bagaikan magma yang tertahan begitu lama didalam perut bumi hingga akhirnya saat bisa keluar jadi begitu dahsyatnya. Setelah memuntahkan semua yang ada dihati dan pikirannya, dia pun melepaskan genggaman tangannya dan berlalu pergi meninggalkan temoatku berdiri sambil memberikan seutas senyuman yang kali ini aku tak lagi mengacuhkannya.

Esoknya aku pun kembali ketempat itu dengan tujuan berbeda yaitu menemani temanku menghabiskan malam. Namun berbeda dengan malam sebelumnya aku mengamati setiap sudut ruangan untuk mencari sosoknya tapi ternyata hasilnya nihil. Dia benar tak lagi sosoknya setelah malam itu dan tak ada lagi cappuccino berkabut favoriteku, tapi entah kenapa aku yakin cappuccino berkabut itu akan kembali terhidang didepanku cepat atau lambat. Dan bila saat itu tiba aku yang akan menggegam tangannya.

 

questioning picture/weird picture

for me it’s weird knowing iker so closed with cr9…. do you????

SPAIN SOCCER REAL MADRID

REALITY SHOW: CELEBRITY CULTURE VS HARGA DIRI

Reality show memang sudah bukan fenomena baru lagi akhir2 ini bahkan bisa dibilang 3 tahun terakhir ini layar kaca kita dibanjiri dengan berbagai macam reality show yang cukup membuatku bosan dan jenuh. Tapi bukan kebosanan ataupun kejenuhanku terhadap reality show yang akan kubahas pada postinganku ini. sesuai denga judul blog post ku yang satu ini, aku otomatis akan memfokuskan membahas masalah “persaingan” antara celebrity culture dengan harga diri yang terdapat didalam tubuh reality show itu sendiri.

Bukan fenomena baru juga kalau sekarang ini banyak orang yang terjebak dalam fenomena celebrity culture. By the way,Celebrity culture here means the phenomenon where everybody has great will and chance to be popular/fame, just like celebrity. Ini artinya sekarang ini banyak orang yang ingin menjadi seperti celebrity alias menjadi terkenal melalui acara2 yang memang digunakan sebagai ajang pamer diri dan biasa disebut reality show. Namun, kadang aku tidak mengerti kenap banyak orang yang berpikiran begitu pendek kalau dengan modal bisa nongol atau nampang di TV akan menjadi seorang celebrity yang sesungguhnya alias langsung terkenal dan tentunya dapat menghasilkan pundi2 uang. Dari situlah kemudian aku merasa kalau didalam realityshow sebuah pertentangan antara kegilaan akan celebrity culture dan pertahanan terhadap harga diri. Jelasnya adalah begini, banyak orang yang tergila-gila akan fenomena celebrity culture dan menjadi pengikutnya karena kepercayaan kalau menjadi popular lewat ajang pencarian bakat atau pengumbar rasa kasihan bisa membuat mereka kaya dalam waktu singkat seperti layaknya kebanyakan selebritas negeri ini tapi disisi mereka seolah tak peduli lagi dengan yang namanya harga diri. Mereka rela melepas dan bahkan membunuh penghargaan atas diri mereka hanya karena masalah popularitas dan kecukupan financial.

Coba lihat bagaimana banyak dari saudara2 kita yang terjebak dalam ajang pencarian bakat secara instan yang pada akhirnya instan juga kan popularitas mereka. Padahal banyak dari mereka yang sudah mengorbankan harga diri mereka dengan mengemis sms dengan berbagai cara tentunya. Belum lagi banyak yang terjebak pada ajang pencarian jodoh yang lagi-lagi karena tenggelam dalam rayuan celebrity culture akhirnya mereka melupakan bagaimana cara menghargai diri sendiri dengan mengemis jodoh plus menelanjangi diri sendiri secara utuh dan jelas tentunya. Bagaimana tidak dengan berbalut kesopanan yang palsu mereka sebenarnya ditelanjangi tubuh, keistimewaan dan aib mereka secara terang-terangan tapi karena dimabuk asmara akan menjadi populer dengan nampang di TV, akhirnya mereka mengesampingkan harga diri mereka. Betul2 ironis, memprihatinkan dan menyesakkan.

Tapi apapun itu, semuanya kembali pada yang menjalaninya. Toh, setiap hal punya pertanggungjawabannya.

KEMBALI KE JALUR AWAL

Setelah kemarin mengalami masalah dengan para mafia eropa yang juga mantan bosku, akhirnya beberapa hari ini hubungan kami sudah membaik walaupun kadang masih ada sedikit kecanggungan antara aku dan beberapa diantara dan masih ada juga yang belum bisa memperbaiki hubungan secara baik denganku. Tapi setidaknya, sekarang segala sesuatunya sudah kembali ke jalur awal alias mulai bergila ria lagi dengan mereka dengan saling share gosip yang sebenarnya gak penting2 amat buat dibahas. Rasanya seneng banget bisa baik denga mereka walaupun jujur aku masih sedikit ragu dan waspada penuh dengan mereka. Jadi ya, aku Cuma gak mau ditipu lagi untuk kedua kalinya oleh mereka apalagi kan aku juga gak pernah tahu apa yang ada dipikiran mereka sebenarnya. Jadi ya aku Cuma berusaha sebaik mungkin untuk menjalin hubungan dengan mkereka namun juga berhati2 dengan mereka dilain pihak.
Sayang seribu sayang, orang yang kuharapkan untuk segera membuka jalur perdamaian denganku malah tak kunjung melakukan itu. Padahal aku sudah lakukan segala cara sesuai ka[pasitasku tapi semuanya itu belum ada hasilnya alias NOL BESAR. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana lagi membuat dia segera menghubungiku dan memmbereskan masalah kita berdua. Tapi sudahlah mungkin ini nasibku jadi orang kecil yang bukan siapa-siapa, bisanya Cuma menunggu dan berdoa moga dioa cepat sadar.

BLOODY SUNDAY MEETING

I won’t forget that meeting with him, the one who has ever been special person in my life. Actually, i am not loving him anymore but don’t know why my heart is still hurt when seeing his eyes again. I can feel the samae hurt again like the first time when i knew his kiss, his hugs, and smile are not mine anymore. And yeah, once again, he is succesfull in breaking mu heart after such a long time forgetting him and erasing him from my life.
I just can’t stop thinking why he should come here and see me again after what he did to me years ago. But i also ask my self why i can’t even a mocking word to him, though i always wanna mock him as long as possible. I just hold his hand like an old buddy holding hand in hand. And absolutely saying congratulatin words for him and of course the best smile of me. i really wanna run from that situation at that time but don’t know why i have such huge push to face himagain without any fear to be hurt again.
Fortunately, taht meeting were only about 30 minutes since he only wanna know whether i wanna come to his wedding or not. And what stupid answer from me since i say yes without any mmmmm words and doubt. And don’t know why after thinking my decision again, my heart is so hurt but i don’t have any will to change my decision. I really don’t understand what happened with me actually but i still keep my hope that after the wedding, i can really let him go forever without any tears and hurt again.

SHIT HAPPENNED: A NOVEL BY CHRISTIAN SIMAMORA AND WINDY ARIESTANTY

Awalnya aku agak males baca buku karangan dua orang ini karena jujur aku agak underestimate pengarang2 Indonesia gara2 selalu mengecewakanku dibagian ending dan terkadang cara ceritanya juga lebay. Tapi kemudian karena entah dorongan apa dan darimana kemarin akupun menyelesaikan buku itu.
Dinovel ini ada 3 tokoh yang menjadi center alur ceritanya, mereka itu adalah Lula, Langit, dan Sebastian. Aku Cuma bakalan kasih potongan ceritanya sesuai yang ada disampul belakang buku ini yang bacanya kayak komik jepang gitu dan kesanku terhadap tokoh dicerita ini satu persatu.

Lula: I heve a good job. I’m pretty, and, believe me, I am not airhead Paris-Hilton_like-girl. I am all what men need. Tapi kenapa nggak ada cincin dijari manisku

Dariku: dari secuplik kata2 diatas, jangan salah tafsir kalau Lula pengen ngebet nikah. Dia Cuma heran kenapa dia bias kalah saing ma orang yang menurut dia jauh dibawah dia. Dan parahnya cewek itu bias bersanding dengan orang yang slama ini dia inginkan. Dari Lula aku belajar kalau memang kesempurnaan itu nggak akan pernah bias diraih karena pasti ada celah yang bikin hal itu cacat, walau sekecil apa pu celahnya. Karakter Lula juga menguatkan pemikiranku kalau melingkarnya cincin di jari manis artinya sudah siap berkomitmen untuk saling menghargai dan percaya. Sayangnya, Lula belum punya itu.

Langit: we were perfect couple, ‘till, I found out about his affair. Then he left me. He chose his latest partner, not me. This is my big question mark, WHY?

Dariku: kalau karakter agak complicated kayak aku. Terkadang dia mendeny kalau sebenarnya dia ingin dialah orang yang dipilih oleh si him tapi disisi lain dia tak bias membiarkan orang hidup dalam kebohongan dan kepalsuan juga keterpaksaan. Parahnya, kisah langit hamper sama dengan kisahku dengan seseorang yang pernah jadi seseorang yang istimewa buatku. Apalagi mereka punya nama yang sama. Kamipun mengambil keputusan yang sama yaitu melepaskan mereka untuk mencari kehidupan mereka sendiri walau awalnya aku sama dengan langit tidak terima dengan kepuitusannya.

Sebastian: mangoli (nikah)… Cuma itu yang ada dipikiran mama akhir2 ini. Katanya menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus2an maksa aku nyari calon perumaen (menantu) dan menikah secepatnya?

Dariku: Sebastian merupakan karakter yang keras yang ingin hidup sesuai dengan keinginanannya. Dia tidak percaya dengan semua konsep pernikahan yang dipercaya banyak orang sebagai gerbang kebahagiaan sejati. Dari karakter dan “kehidupan” Sebastian aku belajar bahwa memutuskan sesuatu itu harus2 bener2 mateng dan mempertimbangkan segala sesuatu. Yang aku tidak suka dari karaketer Sebastian adalah dia memilih kehilangan mamanya disbanding kehilangan sesorang yang baru saja dia kenal dan dia cintai padahal belum ada jaminan kalau orang tersebut juga punya keinginan dan perasaan yang tulus seperti mamanya apalagi mengingat pergaulan dan pilihan hidup orang tersebuit. Dan yah akhirnya Sebastian harus menanggung resiko yang besar seumur hidupnya (at least sampai halaman terakhir buku ini).

OVER ALL: aku belajar kalau dimurku yang sekarang aku masih harus belajar dan menggali banyak hal agar hidupku tidak salah jalan seperti Sebastian, BECAUSE LIFE IS NEVER BEING PERFECT, WE JUST CAN DO OUR BEST, RIGHT????

I JUST CAN’T

Kata2 yang kemarin aku ucapin waktu seorang sahabat bertanya kenapa aku melepaskan dia padahal aku bisa bergerak duluan dengan segala keyakinan yang kupunya dan mungkin akan membuat segalanya seperti apa yang kuimpikan dan kuinginkan selama ini, sebuah ending yang indah yang selama ini selalu Cuma jadi angan saja bagiku. Tapi entah kenapa Cuma kata2 “I just can’t do that.” Tak ada alasan jelas yang bisa kubagi padanya. Aku Cuma gak bisa membuat dia tersiksa karena aku memaksanya bersamaku, aku gak bisa liat dia tertekan dengan segala rasa sayangku yang bisa dikatakan sangat besar untuknya. I just can’t do that to him. Mungkin silly ya, tapi bagiku lebih baik aku menderita sendirian daripada aku harus melihat orang lain apalagi orang yang kusayang menderita. Setidaknya aku gak ada rasa bersalah seumur hidup pada orang lain daripada aku harus menyesal seumur hidup karena membuat dia menderita dan terbebani.

Itu pula yang membuatku melepaskan seseorang yang sebenarnya bisa kumiliki secara utuh kalau aku mau. Bedanya aku harus melepaskan dia demi orang yang sebenarnya secara Jenis kelamin tak pantas bersanding dengannya. Sakit juga waktu nerima undangan darinya kalau dia mau nikah ma orang itu 3 hari yang lalu tapi kebodohanku juga membiarkan dia memilih orang tersebut bukannya berusaha membuatnya kembali ke jalan yang seharusnya. Jawabanku pun sama, I just can’t do that to him. Aku gak bisa ngebiarin dia hidup dalam kebohongan demi disebut normal dengan orang lain. Aku gak bisa ngliat dia menyesal seumur hidup karena hidup dalam kepalsuan demi mendapat label normal dan gak dianggap berpenyakit. Sekali lagi aku mending melihat dia bersama orang yang gak seharusnya dan aku menderita untuk sementara daripada aku harus melihat dia menderita karena aku.

Mungkin karena itulah tiga sahabatku bilang aku egois pada diriku sendiri, aku selalu membuat keputusan yang mempertimbangkan orang lain lebih banyak dan berat daripada perasaan ku sendiri. Aku seolah tak bisa menghargai diriku sendiri dan sekali saja membahagiakan diriku sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain…. Sekali saja (itu yang mereka katakan)

SEPARAH ITUKAH AKU????

KERAGUANKU ATAS DIRIKU SENDIRI

Udah lama banget aku denger kabar dari seorang teman yang bias dibilang cukup terkenal dikalangannya, dan cukup kaget juga waktu dia telpon secara tiba2 dan langsung curhat. Bukannya apa2 tapi heran aja, setelah sekitar setahunan kita bener2 lost contact dia malah tiba2 telpon aku yang notabenenya gak terlalu deket ma dia, apalagi langsung curhat. Ini juga yang kadang membuatku bingung dan bertanya sebegitu berharganya diriku dimata mereka atau aku Cuma orang terkahir buat mereka yang bias setiap saat mereka hubungin dan menampung semua keluh kesah mereka. Aku terkadang berpikir apa aku bener aku ini berharga dan dicintai banyak orang karena memang aku orang yang menyenangkan atau karena aku Cuma tempat sampah terbaik buat mereka. Jujur, aku gak nyalahin orang lain kalau soal ini, aku Cuma ragu ma diriku sendiri yang semakin ku mengenalnya semakin aku merasa bukan apa2 dan siapa2.

Aku takut kalau saat aku berubah jadi super sibuk dan gak ada waktu buat orang lain lagi, aku akan ditinggalkan oleh orang2 yang saat ini dekat denganku. Aku takut kalau aku mereka dekati Cuma karena mereka butuh aku, bukan karena memang tulus mau bertemen ma aku. Dan semua itu bermaura pada keraguan akan harga atas diriku sendiri. Aku tahu dan yakin tuhan mkenciptakan segala sesuatu didunia ini pasti ada manfaatnya tinggal bagaimana kita mencari tahu manfaatnya tersebut. Nah sekrang aku belum tahu seberapa manfaat diriku untuk orang lain karena sebagai anak saja aku belum bias melakukan apapaun yang bias membuat orang tuaku bangga. Mendapat pekerjaaan aja aku belum, makan dan kebutuhan sehari2 masih minta orang tua belum lagi banyak hal yang membuatku masih gagal sebagai anak.

Mungkin bener kata salah seorang temen kalau aku Cuma berada dilowest poin aja saat ini gak usah terlalu dibikin rumit toh nantinya aku akan menemukan jawaban atas keraguanku kalau waktunya dah tiba dan tepat aja. Tapi sekarang samapi kapan keraguan ini menghantui detik2 kehidupan ku????? Sebuah keraguan memang sangat menyiksa ya… aplagi keraguan pada diri sendiri bikin kepala tambah pecah aja.